Kisah muslimah Yahudi tentang kekejaman Nazi

Kisah muslimah Yahudi tentang kekejaman Nazi

Kisah muslimah Yahudi tentang kekejaman Nazi

Selama lebih daripada lima dekad, Leila Jabarin menyembunyikan rahsia dari anak-anak dan cucunya bahawa ia adalah korban yang selamat dari pembunuhan Nazi Jerman di Kamp Konsetresi Auschwitz. Keluarganya tahu bahawa ia seorang mualaf Yahudi, namun tidak ada yang tahu masa lalu Leila yang kelam.
Rahsia itu akhirnya diungkap Leila kepada keluarganya. Kepada mereka, Leila menceritakan asal-usulnya ini dengan penderitaan yang dialaminya selama berada dalam kem konsetrasi. “Nama Ibraniku Lea, tapi aku suka dipanggil Helen,” ungkap Leila membuka cerita seperti dikutip alarabiya.net.
Leila menuturkan, ketika berusia enam tahun ia menetap di Palestin, hanya beberapa bulan sebelum negara Yahudi Israel diisytiharkan Mei 1948. Leila bersama keluarganya menumpang kapal yang membawa pendatang Yahudi dari Yugoslavia. Selama seminggu, kapal yang ditumpanginya terkatung-katung di lepas pantai Haifa. Saat itu, Inggeris melakukan pengeboman di utara pelabuhan, “kata dia yang merupakan keturunan Hungary dan Rusia ini.
Sebelum memutuskan pindah ke Palestin, Leila bersama keluarga menetap di Austwitz. Saat itu, ibu Leila bekerja sebagai pembantu di rumah seorang doktor. Sedangkan ayahnya adalah tukang kebun. “Aku lahir di sana. Aku disembunyikan doktor Kristian dengan tuala. Doktor itu pula yang menyelamatkan keluarganya selama tiga tahun di bawah lantai rumah dalam kem,” kenang Leila.
Menurut Leila, sering kali tentera Nazi Jerman berulang kali memeriksa rumah doktor tempat Leila dan keluarga tinggal. Ia pun menyaksikan bagaimana Nazi membunuh anak-anak. Beruntung, berulang kali doktor ini menyelamatkan Leila dan keluarganya. “Aku ingat betul, bagaimana ibu memberi makan kami roti kering yang direndam dalam air garam,” kata dia.
“Aku juga ingat, apa yang ku kenakan ketika itu yakni piyama bergaris hitam dan putih. Aku juga ingat bagaimana mereka melakukan pemukulan di kem-kem. Jika aku cukup sihat, aku akan kembali melihatnya tapi aku takut lantaran sudah empat kali melakukan serangan jantung,” jelasnya yang kini telah mantap menjadi muslimah.
Leila mengaku, sukar untuk mengingat bagaimana begitu banyak orang menderita. Kerana itu, sukar bagi dirinya untuk menceritakan kisah pilu kepada keluarga. “Begitu menakutkan dan sangat menakutkan,” katanya yang mampu bercakap dalam bahasa Ibrani dan Arab.
Pada tahun 1945, mereka dibebaskan. Mereka pindah ke Palestin. Sebelumnya, Leila dan keluarga dimasukan terlebih dahulu di kem Atlit, sekitar 20 km dari Haifa. Lalu, 20 tahun kemudian, Leila memutuskan pindah ke Holon lalu ramat Gan dekat Tel Aviv.
10 tahun kemudian, Leila berkahwin dengan lelaki Arab bernama Ahmed Jabarin. Dan Leila pun mengikuti suami untuk menetap di Umm al-Fahm. “Aku kawin lari ketika berusia 17 tahun. Keluarga menolak pernikahan ini,” kenang Leila.
Meski demikian, tidak perlu lama bagi Leila untuk berdamai dengan keluarga besarnya. Ibunya pun menyarankan Leila untuk masuk Islam. “Dia kata aku perlu masuk Islam untuk menyelamatkan dirinya dari wajib milter,” katanya.
Hingga saat ini, Leila masih merasa trauma dengan masa lalu yang kelam. Untuk alasan itulah, ia tidak menceritakan masa lalunya kepada lapan anak dan 31 cucunya. “Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk memberitahu mereka,” kata dia.
Beberapa hari lalu, seorang dari dinas sosial Israel muncul untuk bercakap soal masa lalu Leila. “Setiap hari itu diperingati, aku merasakan bagaimana memakan roti kering yang direndam air garam. Aku sendiri tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi padaku,” ujarnya.
Anak Leila, Nader Jabarin, 33 tahun, baru paham mengapa ibunya selalu menangis ketika tragedi itu berlaku. “Aku sering melihat beliau menangis ketika peringatan tragedi holocaust terjadi. Tapi saya paham sekarang,” jelasnya.http://detikislam.blogspot.com/